Calon wakil gubernur Jakarta nomor urut 1, Suswono, membawa gagasan yang relevan dan dinanti banyak pihak: administrasi guru yang lebih ringan sebagai fondasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam pandangannya, guru seharusnya lebih fokus pada tugas utama mereka di kelas, bukan tenggelam dalam tumpukan berkas administratif. Ide ini menjadi salah satu poin penting yang ia sampaikan dalam debat Pilkada Jakarta 2024, menyoroti urgensi reformasi birokrasi di sektor pendidikan.
Suswono, dalam debat yang berlangsung pada Minggu, 27 Oktober 2024, pukul 21.05 WIB di Balai Sidang Jakarta, mengutarakan bahwa guru di Jakarta, dan mungkin di seluruh Indonesia, seringkali dibebani oleh tugas-tugas administratif yang berlebihan. Mulai dari penyusunan laporan, pengisian data daring, hingga berbagai jenis evaluasi yang terkadang bersifat repetitif dan tidak langsung berkaitan dengan proses belajar-mengajar. Beban administrasi guru ini, menurutnya, mengurangi waktu dan energi yang seharusnya dialokasikan untuk persiapan materi, interaksi dengan siswa, dan pengembangan pedagogi.
Gagasan Suswono tidak hanya berhenti pada pengurangan beban administratif, tetapi juga mengaitkannya dengan peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Dengan membebaskan guru dari rutinitas birokrasi yang membelenggu, diharapkan mereka dapat mencurahkan lebih banyak perhatian pada inovasi metode pengajaran, pengembangan kurikulum yang relevan, serta bimbingan personal kepada siswa. Ini adalah langkah strategis untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih efektif dan efisien.
Pentingnya meringankan beban administrasi guru telah lama disuarakan oleh berbagai organisasi profesi guru. Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), misalnya, melalui rilis pers pada 15 Januari 2024, pernah menyebutkan bahwa rata-rata guru menghabiskan 30-40% waktu kerjanya untuk urusan administrasi. Angka ini tentu mengkhawatirkan dan memperkuat argumen bahwa reformasi di bidang ini sangat mendesak.
Jika gagasan Suswono dapat diimplementasikan, dampaknya diharapkan sangat positif. Guru akan merasa lebih dihargai dan tidak terbebani, sehingga motivasi dan semangat mengajar mereka akan meningkat. Pada akhirnya, ini akan berujung pada peningkatan mutu pendidikan di Jakarta. Dengan administrasi guru yang efisien, para pendidik bisa kembali berfokus pada misi utama mereka: mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing tinggi.
