Bali tidak hanya menawarkan keindahan pantai untuk pariwisata, tetapi juga menjadi laboratorium alami bagi pengembangan teknik bela diri tingkat tinggi. Salah satu varian yang mulai dikembangkan secara serius oleh PGSI Bali adalah gulat yang dilakukan di atas hamparan pasir. Berbeda jauh dengan matras sintetis yang memberikan pijakan statis, pasir menawarkan tantangan kinetik yang jauh lebih kompleks. Metode Gulat Pasir di pesisir ini bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah teknik latihan yang dirancang untuk meningkatkan kepekaan motorik dan kekuatan otot penyeimbang yang sering kali terabaikan dalam sesi latihan di dalam ruangan.
Karakteristik utama dari latihan di pantai adalah kondisi medan yang sangat dinamis dan tidak stabil. Setiap kali seorang pegulat melangkah atau mencoba melakukan tumpuan, permukaan pasir akan bergeser, memaksa otot-otot kecil di sekitar pergelangan kaki dan lutut untuk bekerja ekstra keras guna menjaga keseimbangan. Fenomena ini menciptakan efek penguatan yang luar biasa pada ligamen dan tendon. Para atlet di Bali menemukan bahwa setelah terbiasa bertarung di atas pasir yang amblas, kemampuan mereka untuk bergerak di atas matras standar menjadi jauh lebih eksplosif dan stabil. Mereka seolah-olah memiliki daya cengkeram yang lebih kuat karena sistem saraf mereka telah terlatih menghadapi ketidakpastian pijakan.
Selama sesi pelatihan di bawah terik matahari, para pegulat PGSI harus mampu memodifikasi teknik bantingan mereka. Di atas pasir, kecepatan eksekusi harus dibarengi dengan pemahaman tentang gesekan yang rendah. Kesalahan kecil dalam menempatkan berat badan akan membuat pegulat tergelincir atau kehilangan momentum serangan. Hal ini secara tidak langsung mengasah insting bertahan yang lebih tajam. Selain itu, hambatan alami dari pasir saat melakukan gerakan lari atau takedown memberikan beban tambahan yang serupa dengan latihan beban, namun dengan risiko cedera benturan yang jauh lebih rendah karena sifat pasir yang mampu menyerap impak dengan baik.
Selain manfaat fisik, lingkungan terbuka di pantai Bali juga memberikan stimulasi psikologis yang positif. Suara ombak dan udara laut yang kaya oksigen membantu proses pemulihan mental atlet di tengah jadwal latihan yang padat. Namun, tantangan suhu pasir yang panas juga melatih ketahanan mental dan adaptasi terhadap ketidaknyamanan fisik yang ekstrem. Di bawah bimbingan pelatih lokal, para atlet diajarkan untuk tetap fokus pada strategi pertarungan meskipun mata mereka terpapar butiran pasir atau kulit mereka terasa perih. Ketangguhan mental inilah yang menjadi ciri khas pegulat asal Pulau Dewata saat bertanding di tingkat nasional maupun internasional.
